Salah Perhitungan Hadapi Pandemi Diakui Salah Oleh Pemerintahan Swedia

Salah Perhitungan Hadapi Pandemi Diakui Salah Oleh Pemerintahan Swedia – Pemerintah Swedia mengakui mereka tidak benar perhitungan didalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19), dan dinilai gagal memelihara keselamatan grup masyarakat lanjut usia yang berada di panti jompo.

Salah Perhitungan Hadapi Pandemi Diakui Salah Oleh Pemerintahan Swedia

“Saya pikir beberapa besar orang yang berada didalam tugas itu tidak melihat akan tersedia gelombang kedua di depan mereka, mereka cuma menyebutkan hal itu sebagai klaster baru,” kata Lofven kepada surat kabar Swedia, Aftonbladet, layaknya dikutip Associated Press, Rabu (16/12).

Salah Perhitungan Hadapi Pandemi Diakui Salah Oleh Pemerintahan Swedia

Saat ini Swedia menghadapi gelombang kedua infeksi Covid-19. Mereka selama ini selalu menjaga kebijakan tidak menerapkan penguncian wilayah, berlainan layaknya yang ditunaikan umumnya negara Eropa lainnya, tapi menghendaki penduduknya bertanggung jawab memelihara kesegaran diri sendiri dan orang lain.

Dalam laporan komisi mandiri yang dipimpin Mats Melin, yang lakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan pandemi menunjukkan pemerintah Swedia tidak siap dan kekurangan peralatan yang mumpuni.

Mereka juga menunjukkan para masyarakat lanjut usia tidak terlindung dari ancaman Covid-19, gara-gara hampir lebih dari separuh korban meninggal akibat infeksi virus itu adalah para manula yang menghuni panti jompo.

“Tetapi kita selalu menunjukkan pemerintah masih memerintah negara ini dan semua pertanggungjawaban tersedia di tangan mereka dan pemerintahan terdahulu,” kata Melin.

Melin menunjukkan ketidaksiapan Swedia menghadapi pandemi berjalan akibat celah didalam sistem kesegaran yang ditangani oleh sejumlah organisasi dan instansi pemerintahan.

Sampai selagi ini dari 10 juta lebih masyarakat Swedia, tersedia 341.029 orang yang terinfeksi Covid-19. Dari jumlah itu, tersedia 7.667 pasien yang meninggal akibat Covid-19 atau komplikasi dengan penyakit lain.

Jumlah kematian akibat Covid-19 di Swedia lebih tinggi dari negara tetangganya layaknya Denmark, Finlandia atau Norwegia.

Dalam laporan komisi itu, negara-negara tetangga Swedia dilaporkan mampu menekan tingkat kematian akibat infeksi Covid-19 terhadap grup lansia dengan memelihara mereka lewat metode karantina dan isolasi.

Swedia cuma menganjurkan para penduduknya memelihara jarak selama pandemi. Namun, mereka selalu mengizinkan kesibukan belajar mengajar di sekolah, dan melepaskan bar sampai restoran beroperasi layaknya biasa.

Meski tingkat kematian akibat Covid-19 per kapita di Swedia lumayan tinggi, Perdana Menteri Stefan Lofven dan epidemiolog Anders Tegnell selalu menunjukkan langkah membentuk kekebalan grup (herd immunity) yang mereka terapkan akan terus menerus didalam jangka panjang. Akan tetapi, mereka mengakui kegagalan pemerintah untuk memelihara grup lansia dan panti jompo.

Akibatnya adalah Swedia kini mengalami lonjakan kasus infeksi yang sebabkan sistem kesegaran mereka kewalahan menanggulangi pasien. Jumlah tenaga kesegaran yang terinfeksi juga bertambah, dan sebabkan pemerintah setempat menerapkan sejumlah larangan layaknya tidak mengizinkan penjualan alkohol di restoran dan bar selepas pukul 22.00 selagi setempat.

Mereka juga halangi kerumunan maksimal cuma boleh diikuti delapan orang dengan memelihara jarak dan menerapkan protokol kesegaran lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *