mesir-buka-perbatasan-gaza-usai-ditutup-14-tahun

Mesir Buka Perbatasan Gaza Usai Ditutup 14 Tahun

Mesir Buka Perbatasan Gaza Usai Ditutup 14 Tahun – Pemerintah Mesir membuka kembali pintu perbatasan Rafah menuju Jalur Gaza, Palestina, mulai Selasa (9/2) kemarin.

Mesir Buka Perbatasan Gaza Usai Ditutup 14 Tahun

mesir-buka-perbatasan-gaza-usai-ditutup-14-tahun

biciusata – Keputusan itu ditunaikan bersama-sama bersama dengan sistem dialog antara faksi-faksi politik di Palestina menjelang pemilihan lazim di Kairo.

“Ini bukan pembukaan yang ditunaikan secara rutin. Ini adalah pertama kalinya di dalam sebagian tahun perbatasan Rafah dibuka tanpa batas,” kata seorang sumber seperti dilansir AFP, Rabu (10/2).

Menurut sumber itu, umumnya pintu perbatasan Rafah hanya dibuka tiga hingga empat hari di dalam sepekan.

Rafah adalah pintu perbatasan cuma satu bagi penduduk Jalur Gaza untuk mampu bepergian berasal dari lokasi itu. Jalur Gaza adalah tidak benar satu lokasi bersama dengan penduduk terpadat di dunia, yaitu dihuni kira-kira dua juta penduduk Palestina.

Sebagian penduduk Gaza hidup di bawah garis kemiskinan.

Penduduk Jalur Gaza gembira menyongsong pembukaan seluas-luasnya perbatasan Rafah.

“Saya sudah tunggu perbatasan dibuka selama enam bulan. Akibat penutupan itu, aku tidak mampu kuliah satu semester, aku mau pembukaan ini permanen,” kata seorang mahasiswa Jalur Gaza, Ibrahim al-Shanti (19).

Penduduk Gaza lainnya, Yasser Zanoun (50), mendesak para tokoh politik Palestina merundingkan permbukaan permanen perbatasan Rafah demi meringankan beban hidup penduduk setempat yang dibelit kemiskinan dan kudu menghadapi pandemi virus corona.

“Perbatasan ini kudu dibuka 24 jam sehari dan selama tahun. Banyak masalah menyangkut kemanusiaan yang butuh penanganan,” kata Zanoun.

Perbatasan itu ditutup oleh Mesir dan Israel sejak 2007, sementara berlangsung pergolakan internal di Palestina antara faksi Fatah dan Hamas.

Saat itu Hamas menolak mengakui hasil pemilihan lazim Palestina pada 2006, dan menentukan menjalankan pemerintahan terpisah di Jalur Gaza. Israel melihat hal itu sebagai potensi ancaman dan menentukan menutup perbatasan Rafah.

Sementara Fatah menjalankan pemerintahan di Tepi Barat.

Selain Fatah dan Hamas, faksi perjuangan Palestina yang menghadiri dialog itu adalah Jihad Islam hingga grup kiri, yaitu Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan Front Demokratik Pembebasan Palestina.Dalam pertemuan itu, mereka mengulas tata cara pemilihan legislatif yang direncanakan digelar pada 22 Mei dan pemilihan presiden pada 31 Juli mendatang.

Sedangkan sistem pemilihan anggota Dewan Nasional Palestina direncanakan digelar pada 31 Agustus mendatang.

Proses rekonsiliasi antara ke-2 grup itu memakan sementara bertahun-tahun. Pada September 2020 lalu, Fatah dan Hamas sepakat bersama dengan inspirasi menggelar pemilu.

Sampai sementara ini dunia hanya mengakui pemerintah Palestina yang berkuasa di Tepi Barat, yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas berasal dari faksi Fatah.

Pemilihan lazim itu direncanakan akan digelar di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Jalur Gaza. Akan tetapi, Yerusalem sementara ini tetap berada di dalam status quo gara-gara diduduki Israel sejak 1967.

Meski tetap terdapat perbedaan di antara faksi-faksi perjuangan di Palestina, mereka perlu ajang politik ini untuk konsolidasi lembaga politik dan seluruh grup yang berada di di dalam negeri, sebelum menghadapi perundingan damai bersama dengan Israel.

Apalagi sementara ini posisi Palestina mampu dibilang jadi tertekan gara-gara sejumlah negara Arab dan mayoritas Muslim menentukan jalankan normalisasi pertalian bersama dengan Israel.

Kondisi itu mampu pengaruhi kekuatan diplomasi Palestina yang selama ini meraih dukungan berasal dari negara-negara Arab dan mayoritas Muslim.

Mesir selama ini melakukan tindakan menjadi penengah jika berlangsung konflik internal Palestina, atau ketika Palestina bertikai bersama dengan Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *